Dua Tangan Allah

Dua Tangan Allah

Pada Asy Syariah edisi 112 hlm. 71, terjemahan hadits riwayat Muslim tertulis, “… kemudian Dia melipat bumi dengan kiri-Nya….”
Bukankah seharusnya dengan kanan-Nya? Mohon diperhatikan!
085696xxxxxx
 Dijawab oleh al-Ustadz Qomar Suaidi

Allah Memiliki Dua Tangan
Di antara sifat Allah ‘azza wa jalla adalah memiliki dua tangan. Hal ini berdasarkan firman Allah ‘azza wa jalla,
بَلۡ يَدَاهُ مَبۡسُوطَتَانِ يُنفِقُ كَيۡفَ يَشَآءُۚ
        “(Tidak demikian), tetapi kedua tangan Allah terbuka; Dia menafkahkan sebagaimana Dia kehendaki.” (al-Maidah: 64)

قَالَ يَٰٓإِبۡلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَن تَسۡجُدَ لِمَا خَلَقۡتُ بِيَدَيَّۖ أَسۡتَكۡبَرۡتَ أَمۡ كُنتَ مِنَ ٱلۡعَالِينَ ٧٥
        Allah berfirman, “Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?”

Read More
Mengajari Anak Mencintai Pemerintah Muslim

Mengajari Anak Mencintai Pemerintah Muslim

Agu 10, 2017 | Asy Syariah Edisi 117, Permata Hati |
Terkadang secara tak sadar, orang tua menanamkan kepada anak rasa ketidakpuasan terhadap penguasa negerinya. Lewat obrolan dengan orang lain, meluncur ungkapan-ungkapan celaan bahkan hujatan terhadap sang penguasa. Tampaknya hanya sekadar curhat. Namun, tanpa disangka, sepasang telinga kecil menangkap pembicaraan itu, lalu menghunjam di sanubarinya.
Berbekal opini dari orang tuanya terhadap penguasanya yang dipandang penuh kekurangan, tumbuhlah dia sebagai pemuda yang tidak puas dan benci dengan pemerintahnya. Tinggallah orang tua yang terhenyak, saat suatu hari nama anaknya tercatat sebagai anggota teroris. Wal ‘iyadzu billah….
Read More
Jangan mencela sunnah

Jangan mencela sunnah

Salah satu konsekuensi syahadat anna muhammadar Rasulullah adalah memuliakan dan mengagungkan semua  ajaran yang dibawa Oleh Nabi `. Baik berupa sabda beliau, perbuatan beliau, kepribadian beliau dan lain sebagainya. Sikap yang demikian ini juga masuk dalam keumuman firman Allah ta’ala
ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ
Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu muncul dari ketakwaan hati.” [Q.S. Al-Hajj : 32]
Ibnu Katsir menjelaskan dalam tafsirnya bahwa yang dimaksud dengan syiar-syiar Allah adalah segala bentuk perintah Allah swt. Sehingga termasuk dalam hal ini adalah perintah untuk memuliakan dan menghidupkan sunnah Nabi `.


Read More
Beda Tawaf dan Mencium Hajar Aswad dengan Amalan Musyrikin

Beda Tawaf dan Mencium Hajar Aswad dengan Amalan Musyrikin

وَ عَنْ عَابِسِ بْنِ رَبِيعَةَ قَالَ: رَأَيتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ يُقَبِّلُ الْحَجَرَ – يَعْنِي الْأَسْوَدَ – وَ يَقُولُ: إِنِّي لَأَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ لَا تَنْفَعُ وَ لَا تَضُرُّ, وَ لَوْلَا أَنِّي رَأَيتُ رَسُولَ اللهِ يُقَبِّلُكَ مَا قَبَّلْتُكَ.

Dari ‘Abis bin Rabi’ah, dia berkata, “Aku melihat Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu mencium Hajar Aswad, lalu berkata, ‘Sungguh, aku tahu engkau adalah batu yang tidak memberikan manfaat dan madarat. Kalau bukan karena aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menciummu, aku tidak akan menciummu.”

Takhrij Atsar
Atsar Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu ini muttafaqun ‘alaihi. Al-Bukhari meriwayatkannya dalam ash-Shahih, Kitab al-Hajj bab “ar-Raml fil Hajj” no. 1605.
Demikian pula Muslim meriwayatkan dalam Kitab al-Hajj, bab “Istihbab Taqbil al-Hajar al-Aswad” no. 1270.
Diriwayatkan pula oleh Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasai, dan al-Hakim an-Naisaburi.
Asy-Syaikh al-Allamah al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin al-Albani menyatakan sahih dalam Shahih at-Targhib wat Tarhib.
Read More
Bersumpah Dengan Selain Nama Allah Termasuk Syirik

Bersumpah Dengan Selain Nama Allah Termasuk Syirik

Mengagungkan Allah ta’ala dengan sebenar-benarnya adalah sebuah kewajiban bagi setiap muslim. Ia dituntut untuk mengagungkan Allah dengan kalbu, lisan dan anggota tubuhnya.
Salah satu bentuk pengagungan kepada Allah adalah bersumpah dengan menggunakan Nama-Nya. Karena, definisi sumpah adalah menguatkan konteks pembicaraan dengan menyebutkan sesuatu yang diagungkan. Sumpah ini dalam ungkapan Arab disampaikan dengan redaksi yang khusus yaitu dengan menggunakan salah satu huruf qasam (sumpah) yaitu ba’ (bi), wawu (wa) atau ta’ (ta). Yakni misalnya dengan mengatakan Wallahi (menggunakan wawu), Tallahi (menggunakan ta’) atau Billahi (menggunakan ba’) yang artinya adalah demi Allah. Tatkala seseorang menyatakan, “Wallahi (Demi Allah), saya benar-benar tidak melakukannya.” Berarti Ia bermaksud menguatkan keabsahan berita yang disampaikan dengan menyebutkan Nama Allah ta’ala yang ia agungkan dan muliakan.
Read More
Sekuntum Mawar di Atas Awan

Sekuntum Mawar di Atas Awan

SEBUAH RENUNGAN BAGI PARA PENDAKI GUNUNG

“Di mana sih enaknya?” Pertanyaan itu sering terlontar dari sebagian kawan yang penasaran. Dilihat di satu sisi, mendaki gunung memang bukan hal yang begitu menarik; menyita waktu, membuat badan linu-linu, dingin malam menusuk tulang, terik mentari panas menghajar, belum lagi badai dan cuaca yang tak menentu. Kalau lagi menjadi-jadi yang akan terlintas di benakmu adalah sebungkus nasi kucing hangat di bawah temaram sinar lampu petromaks, atau selimut tebal plus bantal empuk yang menemani hangatnya malam di kamar.
Namanya hobi memang nggak bisa diinterupsi. Jangan heran meski sedemikian ‘sadis’ kondisi, para petualang sejati tak kenal kata kapok mendaki. Sulit diungkapkan kenapa rasa rindu itu terus ada. Padahal bukan hal mudah menyabar-nyabarkan kaki untuk terus melangkah naik dan naik.
Read More
Iseng Bercanda Kelewatan

Iseng Bercanda Kelewatan

Seorang bocah seumuran anak TK, pulang ke rumahnya setengah terisak. Dengan ekspresi bingung campur takut, si bocah meninggalkan teman-temannya. Rupanya sebagian temannya telah menjailinya dengan menyembunyikan sandal miliknya. Karena tidak ketemu setelah sekian waktu mencari, si bocah pun ngambek dan mengadukan hal ini kepada ayahnya. Sementara itu, teman-teman si bocah Justru merasa kegirangan dan menganggap lucu kebingungan sang bocah. Berhasil nih ngerjain orang…

Sobat muda, rupanya berbuat jail kepada orang lain sudah menjadi kebiasaan di masyarakat kita. Semakin gede umurnya, semakin gede pula jailnya. Dari sekadar ngumpetin sandal sampai jail ngerjain teman sendiri yang berbuntut kematian. Wah, parah nih kalau sampai seperti ini. Ada saja berita tentang kasus-kasus yang terjadi dikarenakan iseng yang kelewatan. Kalau sudah begitu, permasalahan pun menjadi runyam. Apa mau dikata, sesal pun sudah terlambat, nasi sudah menjadi bubur.
Read More